Ads 468x60px

.

Thursday, July 19, 2012

Kutipan Artikel tentang Sawah

Mengurangi Konsumsi Beras. SETELAH mampu berswasembada beras pada 1984, sekarang kita menjadi negara pengimpor komoditas itu. Menurut IRRI (2011), Indonesia mengimpor 17,6% beras dunia, di bawah Filipina dan Nigeria. Sampai Juli 2011, kita sudah mengimpor 1,57 juta ton atau senilai Rp 7,04 triliun.

Dari produksinya, negara kita menduduki urutan ketiga setelah China dan India. Produksi 2010 mencapai 37,6 juta ton dengan konsumsi 33,4 juta ton.
Sementara China dan India masing-masing 194,3 juta ton (30,7%) dan 148,3 juta ton (21,6%). Produksi per hektare petani kita juga cukup tinggi, di bawah Jepang, China, dan Vietnam, tapi lebih tinggi ketimbang Thailand, Filipina, dan Malaysia.

UNCTAD (2008) menaksir selama 1962-2002 jumlah konsumsi beras naik hampir 40%. Di ASEAN, konsumsi per kapita Indonesia termasuk tertinggi, berimbang dengan Myanmar dan Laos. Kementerian Pertanian menyebut angka 139,15 kg per tahun atau 0,38 kg per hari.
Beras masih merupakan sumber kalori dominan masyarakat di Asia. Menurut ADB (2009), tahun 2007 sekitar 50% sumber kalori masyarakat Indonesia, Vietnam, dan Filipina berasal dari beras. Meskipun lebih rendah dari Bangladesh (70%), angkanya lebih tinggi ketimbang China dan Korea Selatan (27%) dan India (30%). Besaran itu memang mengalami penurunan, dan untuk Indonesia sejak 1990 mengalami penurunan dari 55,2% menjadi 48,8% pada 2007.

Menjadi Inferior

Hasil studi Mears (1981), Ito (1989), dan Matriz (2010) mencatat elastisitas pendapatan untuk konsumsi beras di beberapa negara Asia makin lama makin kecil. Ada hubungan makin meningkatnya pendapatan dengan makin menurunnya konsumsi beras.
Dalam ilmu ekonomi, barang yang jumlah permintaannya makin berkurang akibat meningkatnya pendapatan disebut barang inferior.

Beras cenderung dianggap barang inferior di negara berpenghasilan tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan. Juga di negara pengekspor seperti Thailand dan Vietnam, dan di emerging economies seperti China dan India. Gejala serupa ditemukan di Indonesia, makin tinggi pendapatan seseorang konsumsi beras makin berkurang. Pemenuhan karbohidrat dan kalori bergeser ke sumber nonberas, dan hal itu juga dipengaruhi kecenderungan dari gaya hidup.

Pernahkah kita membayangkan Indonesia menjadi negara pengekspor beras? Dengan tingkat produksi dan konsumsi seperti sekarang, sulit diwujudkan. Apalagi di Jawa yang merupakan lumbung padi, gencar terjadi alih fungsi lahan pertanian padi. Pencetakan lahan baru di luar Jawa tidak memberikan hasil signifikan.

Prediksi jumlah produksi dan konsumsi juga sering terjadi silang pendapat, belum lagi menyangkut luas tanam dan panen. Antarinstitusi pemerintah, seperti Kementerian Pertanian dan BPS sering berbeda angka dan importir pemburu rente memanfaatkan kondisi itu untuk mengimpor beras.

Angka konsumsi beras per kapita versi Kementerian Pertanian 139,1 kg per tahun, namun prediksi BPS 113,5 kg. Penurunan 26 kg beras per kapita per tahun menambah persediaan gabah kering giling (GKG) 6 juta ton. Jika konsumsi dapat dikurangi maka Indonesia terbebas dari impor dan dapat menjadi eksportir beras.
Ketahanan pangan yang terlalu bergantung pada beras berisiko pada rapuhnya kebutuhan pangan. Sekali pun potensi bahan pangan alternatif kita besar dan beragam, pengembangannya tidak mudah. Peta jalan pembangunan pertanian selama ini juga jarang membahas penurunan konsumsi.

Kita juga dihadapkan pada ber-bagai kendala, termasuk sosial bu-daya dan psikologis. Beras masih sering dianggap makanan superior, sedangkan nonberas seperti umbi dan biji-bijian adalah inferior.
Kesadaran akan pentingnya mewujudkan kedaulatan pangan sudah lama disuarakan. Tidak sekadar berorientasi pada swasembada beras tetapi lebih dari itu sebagai pemenuhan pangan yang berdampak pada aspek politik, sosial, dan kedaulatan bangsa.

Harus ada kemauan politik untuk mengawal sektor pertanian dan pangan supaya tidak termarginalkan oleh arus industrialisasi dan kapital berskala besar. (10)

Prof Dr Waridin, Ketua Pro-di Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Undip, Penyeleng-gara Program Beasiswa Unggulan Kemendikbud
Opini, Suara Merdeka, 1 Februari 2012
Thank You!

Saturday, July 14, 2012

Sejarah Singkat Padi


Banyak memang tulisan yang menjelaskan secara gamblang tentang tanaman padi, tanaman yang bermetamorfosis menjadi beras kemudian diolah dan dirubah menjadi nasi dan akhirnya dapat dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat asia khususnya asia tenggara dan yang paling banyak mengkonsumsi adalah bangsa kita bangsa Indonesia.

Indonesia yang berpenduduk sekitar 140 juta jiwa dalam sejarahnya adalah penduduk terbesar ke lima dalam mengkonsumsi nasi dan makanan ini menjadi makanan wajib atau makanan pokok, sesuai dengan istilah kebanyakan orang di Indonesia “kalo belum makan nasi kayak belum makan, begitu kira-kira.

Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat.

Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.

Demikian sekelumit tentang makanan pokok bangsa kita yaitu makanan pokok padi yang berubah menjadi nasi setelah diolah.

Wednesday, July 11, 2012

Jenis-Jenis Beras di Indonesia

Indonesia salah satu negara yang hampir semua penduduknya mengkonsumsi beras, sehingga seperti dikatakan sebelumnya dalam tulisan "Swasembada Milik Kita" data statistik menunjukkan :

Indonesia pengimpor beras terbesar di dunia. Data September 2011 1,62 juta ton. Devisa tersedot Rp8,5 triliun. Triwulan pertama 2012 impor 770,3 ribu ton beras senilai Rp3,8 triliun (420,7 dollar AS).

90 % beras dunia dikonsumsi orang Asia. Rata-rata konsumsi Asia 86 kg beras/tahun. Amerika 9 kg/tahun. Eropa 4 kg/tahun.

Orang Indonesia 168,9 kg/tahun. Thailand 153,1 kg/tahun. Filipina 111,1 kg/tahun. Cina 107,4 kg/tahun (Suara Merdeka Minggu 10 Juni 2012).

Membaca data diatas, terasa memang bangsa kita sangat membutuhkan beras, berikut ini beberapa Jenis beras yang biasa di temukan di Indonesia antara lain:

a. Pandan wangi
Ciri khas beras pandan wangi adalah aromanya yang wangi pandan. Namun sering pula terdapat beras yang wangi pandan karena zat pewangi kimia. Namun masih terdapat ciri yang lainnya yang bisa membantu agar Anda tidak salah pilih, yaitu beras pandan wangi tidak panjang, tetapi cenderung bulat. Jika terdapat beras dengan biji yang panjang, tetapi wangi hampir dapat dipastikan beras tersebut telah dicampur dengan pewangi kimia. Selain bulat beras pandan wangi juga berwarna sedikit kekuningan tapi tidak putih namun bening. Jika bulat dan terdapat bagian yang berwarna putih.

b. IR 64 / Setra Ramos
Beras IR 64 atau Setra Ramos adalah beras yang paling banyak beredar di pasaran, karena harganya yang terjangkau dan relatif cocok dengan selera masyarakat perkotaan. Normalnya beras jenis ini pulen jika dimasak menjadi nasi, namun jika telah berumur terlalu lama (lebih dari 3 bulan) maka beras ini menjadi sedikit pera, dan mudah basi ketika menjadi nasi. Beras ini memiliki ciri fisik agak panjang / lonjong, tidak bulat. Beras ini tidak mengeluarkan aroma wangi seperti pandan wangi, namun seringkali pabrik / pedagang beras menambahkan zat kimia pemutih, pelicin dan pewangi pada beras ini. Maka berhati-hatilah jika menemui beras dengan bentuk lonjong, namun mengeluarkan aroma wangi, bisa jadi beras tersebut telah ditambahkan pewangi kimia.

c. Rojolele
Beras Rojolele memiliki ciri fisik cenderung bulat, memiliki sedikit bagian yang berwarna putih susu, dan tidak wangi seperti beras pandan wangi. Nama Rojolele biasanya adalah sebutan dari daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, namun untuk daerah Jawa Barat dan beberapa daerah lain terkadang beras ini biasanya disebut Beras Muncul.

d. IR 42
Beras IR 42 bentuknya tidak bulat, mirip dengan IR 64 namun ukurannya lebih kecil. Beras ini jika dimasak nasinya tidak pulen, namun pera sehingga cocok untuk keperluan khusus seperti untuk nasi goreng, nasi uduk, longong, ketupat dan lain sebagainya. Biasanya harganya relatif lebih mahal daripada IR 64 karena beras ini jarang ditanam oleh petani.

e. Beras Merah
Beras merah telah dikenal sejak tahun 2800 SM. Oleh para tabib saat itu benda ini dipercaya memiliki nilai-nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Banyak penulis di Asia Timur masa dahulu mengatakan bahwa beras merah merupakan jenis makanan yang dapat menyembuhkan penyakit lantaran keseimbangan alamiahnya. Pada masa kini, para ahli makrobiotik telah pula menyatakan persetujuannya. Beras merah atau brown rice adalah beras yang tidak digiling atau setengah digiling, jadi bisa dikatakan whole grain atau berbutir utuh. Beras merah mempunyai rasa sedikit seperti kacang dan lebih kenyal daripada beras putih. Meskipun lebih cepat basi, tetapi beras merah lebih bernutrisi.

(Sumber: http://kartikawindya.blogspot.com)

Monday, July 9, 2012

Swasembada Beras Milik Kita!!


Data statistik menyebutkan :

Indonesia pengimpor beras terbesar di dunia. Data September 2011 1,62 juta ton. Devisa tersedot Rp8,5 triliun. Triwulan pertama 2012 impor 770,3 ribu ton beras senilai Rp3,8 triliun (420,7 dollar AS).

90 % beras dunia dikonsumsi orang Asia. Rata-rata konsumsi Asia 86 kg beras/tahun. Amerika 9 kg/tahun. Eropa 4 kg/tahun.

Orang Indonesia 168,9 kg/tahun. Thailand 153,1 kg/tahun. Filipina 111,1 kg/tahun. Cina 107,4 kg/tahun (Suara Merdeka Minggu 10 Juni 2012).

Lalu ada lagi, cerita indah tentang Indonesia pada tahun 1986 Indonesia pernah swasembada beras hingga Presiden Suharto mendapat penghargaan dari FAO badan pangan PBB. Indonesia juga mampu mengeksport beras ke Negara-negara seperti kamboja, Vietnam, dll

Namun semua tinggal cerita, hati yang luka atau beras yang luka. Ada kurang lebih sekitar 241 juta perut yang harus diisi dengan nasi dan sebaiknya nasi itu bukan dari nasi Negara tetangga. Nasi dari pak Tani Indonesia.
Atas Hal ini kita jadi importir beras yang rakus, penduduk bertambah sementara lahan sawah kian berkurang beralih menjadi perkantoran, perumahan, perdagangan dan keperluan lain.

Sebenarnya mungkin ada andil kesalahan, ada lobang yang bocor atau ada lobang yang tertutup dan takkan pernah dibuka. Itu juga tidak baik. Tak kan ada habisnya mencari lobang-lobang kesalahan. Mari berkemas, singsingkan lengan baju. Bersama untuk sejahtera

Cerita indah itu pasti akan bisa terjadi kembali. Roll niri sudah menyaksikan bagaimana geliat bangsa ini menjadi Negara berswasembada pangan. Negara yang berkelimpahan beras. Negara yang sangat kreatif mengolah beras.
Berdiri sejak 1936, Roll Niri telah mampu menemani para petani dalam memanenkan hasil padinya, menemani tawa ceria saat melihat panennya baik, mengayomi lelahnya keringat yang mengucur pada ulir-ulir pori-pori pak Tani

Majulah Pertanian Indonesia!!

Salam

Monday, July 2, 2012

Dimana Roll NIRI Berada Pada Mesin Huller?


Roll NIRI digunakan untuk mesin penggilingan gabah dan dengan menggunakan roll ni akan menjadikan mesin Huller efektif dan efisien. Roll NIRI dipasang sepasang pada diameter yang sama namun dioperasikan dengan kecepatan yang berbeda untuk menghilangkan kulit dari padi. Satu rol memiliki posisi tetap dan yang lainnya adalah disesuaikan dengan keinginan.

Roll NIRI dipasang sepasang pada diameter yang sama namun dioperasikan dengan kecepatan yang berbeda untuk menghilangkan kulit dari padi. Satu rol memiliki posisi tetap dan yang lainnya adalah disesuaikan dengan keinginan

Rol disesuaikan berputar sedikit lebih lambat dari roller tetap. Roll NIRI memiliki aspirator di dasar mesin untuk memisahkan sekam dari beras merah. Diameter rol bervariasi dari 150 sampai 250 mm dan lebar rol 60-250 mm. Jarak yang tepat tergantung pada karakteristik varietas dan lebar dan panjang padi. Metode penggilingan dapat mencapai efisiensi penggilingan sebesar 85% sampai 90% dengan meminimalisir kerusakan gabah.